8 Hama Ini Sangat Merugikan Petani Cabe. Begini Gejala Serangan dan Cara Pengendaliannya..!

Setiap petani cabe pasti mengharapkan hasil produksi yang melimpah dalam setiap siklus panen. Berbagai cara dilakukan untuk menghasilkan panen yang melimpah mulai dari pemberian vitamin tambahan berupa ZPT dan pemberian pupuk untuk meningkatkan kualitas tanah sehingga menghasilkan panen yang berlimpah.

Namun seringkali kita dapati hasil panen yang kurang memuaskan bahkan ada beberapa petani mengalami kegagalan panen alias merugi dikarenakan serangan HAMA yang menyerang tanaman cabe yang dibudidayakan.

Hal ini tentunya menjadi suatu kendala tersendiri bagi petani, sebahagian petani harus rela mengeluarkan biaya tambahan membeli pestisida kimia untuk membasmi hama tersebut.

Padahal jika dikelola dengan baik hama yang menyerang tanaman cabe dapat dikendalikan sehingga mampu mengurangi serangan hama pada tanaman cabe tersebut.

Berikut ini saya akan membagikan informasi berupa jenis-jenis hama apa saja yang menyerang tanaman cabai sahabat sekalian dan bagaimana cara mengendalikannya dengan benar.



1. Lalat Buah (Bactrocera sp.) 

Gejala Serangan Lalat Buah
Lalat buah merupakan salah satu hama yang paling ditakuti oleh pembudidaya, beberpa petani pernah mengeluhkan serangan lalat buah ini. Salah satu contoh adalah petani jeruk didaerah Karo Sumatera Utara. Akibat dari serangan lalat buah petani merugi hingga ratusan juta rupiah dikarenakan buah yang sudah siap dipanen berguguran atau berjatuhan dan menyebabkan buah menjadi benyek atau lembek sehingga tidak layak dikonsumsi.

Pada tanaman cabe lalat buah menyerang tanaman muda maupun tanaman yang sudah matang. Buah yang terserang lalat buah akan membusuk dan kemudian akan berguguran dengan sendirinya.

Serangan berat terjadi pada musim hujan disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh cendawan sehingga buah yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah.

Gejala Serangannya :

Gejala awal terlihat dari adanya titik hitam pada bagian pangkal buah, titik hitam pada pangkal buah muncul karena aktifitas lalat buah dewasa yang memasukkan telurnya pada buah cabai. Telur tersebut akan menetas dan berkembang di dalam buah cabai. Larva yang terdapat di dalam buah menimbulkan kerusakan dari dalam, buah menjadi berwarna kuning pucat dan layu.

Cara Pengendaliannya :
 

1. Dengan memanfaatkan tanaman tumpang sari seperti tanaman pandan wangi, kemangi, daun mint dan bawang merah. Aroma tanaman tersebut diyakini mampu mengusir lalat buah.

2. Pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid larva dan pupa (Biosteres sp, Opius sp), predator semut, Arachnidae (laba – laba), Staphylinidae (kumbang) dan Dermatera (Cocopet).

3. Penggunaan lem perangkap berwarna kuning. Sama seperti perangkap thrips yang telah saya jelaskan diatas.

4. Pengggunaan perangkap atraktan metil eugenol (ME) atau petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Jumlah perangkap yang dibutuhkan 40 buah/Ha. Perangkap dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali.

Namun cara ini dianggap sebagian orang pro dan kontra. Petani yang pro mengatakan cara ini cukup efektif untuk memikat dan mengendalikan hama lalat buah namun bagi sebahagian petani cara ini dianggap sama saja dengan mengundang lalat buah dari lahan petani lain ke lahan pertanian kita.

5. Jalan terakhir ialah pengendalian secara kimiawi, apabila cara - cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. Pestisida yang digunakan harus efektif, terdaftar dan sesuai anjuran.

2. Kutu Daun Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae)
 
Kutu Daun Aphis gossypii
Kutu daun atau A. gossypii merupakan jenis hama yang sangat kecil bahkan lebih kecil dari thrips hama ini memiliki warna yang bervariasi seperti kuning kecoklatan, hijau, dan hitam. Gerakan kutu daun sangat lincah.

Kutu daun merupakan hama yang bersifat polifag yang dapat ditemui pada berbagai macam jenis tanaman inang seperti cabe, labu, timun, kacang panjang, kapas, kopi, terung, kentang, dll.

Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus (50 jenis virus) seperti, Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus, Cucumber MosaicVirus (CMV).

Biasanya hama ini hidup dengan cara bergerombol dan menghisap cairan pada tanaman melalui daun dan batang yang masih muda. Serangan hama trips banyak dijumpai pada saat musim kemarau disaat suhu udara kering.

Gejala Serangan Kutu Daun Aphis :

Kutu ini menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan sel tanaman, terutama dari bagian pucuk dan daun tanaman yang masih muda. Serangga ini umumnya terdapat pada permukaan bawah helaian daun, yang agak terlindung dari cahaya matahari.

Daun dan pucuk yang diserang akan berkerut dan keriting. Pertumbuhan daun dan pucuk tidak normal, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Tanaman muda yang terserang dapat rnenjadi kerdil, dengan daun-daun yang keriting/berkerut, menguning, dan agak menebal. Pertumbuhan bunga akan terhambat. Serangan berat dapat mengakibatkan gagal panen.

Kutu aphis menghasilkan cairan manis yang disebut embun madu (honey dew), sehingga tanaman yang terserang umum didatangi semut. Dalam hal ini semut akan mernperoleh makanan, dan sebaliknya penyebaran aphis terbantu oleh semut. Di samping itu, embun madu tersebut mendorong perkembangan jamur/cendawan embun jelaga, sehingga permukaan daun ditutupi oleh lapisan cendawan seperti jelaga berwarna hitam, yang kalau disapu dengan sedikit ditekan dengan jari akan lepas. Hal ini akan mengganggu proses fotosintesa, sehingga pertumbuhan dan hasil tanarnan akan menurun.

Cara Pengendaliannya :

1. Pengendalian dapat dilakukan dengan menginfestasikan musuh alami seperti, parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson), predator Coccinella transversalis atau cendawan entomopatogen Neozygites fresenii.

2. Jika gejala serangan masih ringan ambil daun yang terserang kutu daun lalu dibakar agar hama tidak segera menyebar.

3. Penggunaan mulsa plastik berwarna milenium, mulsa plastik berwarna milenium dapat memantulkan sinar matahari kebawah kepermukaan daun sehingga aphis akan berpidah atau tidak akan merasa nyaman.

4. Pemberian pupuk berimbang akan mengurangi jumlah serangan kutu daun Aphis. Umumnya kutu aphis menyerang jaringan tanaman yang masih muda dan empuk atau sukulen. Pemupukan nitrogen (misalnya Urea dan ZA) yang berlebihan dapat mendorong peningkatan serangan kutu aphis.

5. Pengendalian kimia dapat dilakukan dengan insektisida yang bersifat sistemik maupun racun kontak. Penyemprotan insektisida kontak terutama diarahkan ke pucuk tanaman dan daun-daun muda; serta ke permukaan bawah daun; karena di tempat tersebut kutu aphis biasanya makan dan berlindung.

Jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan kutu aphis antara lain: Confidor 200 SL (0.125-0.250 cc/l air); Thiodan 35 EC (0.5-2,0ml/1 air); Tokuthion 500 EC, Anthio 33 EC; Dekasulfan 350 EC; Dibrom 8 E; Folithion 50 EC, Karphor 25 EC, Orthene 75 SP (0.1 %); Hostathion 40 EC, Primur 50 WP (0, 1 %); Tamaron 200 EC; Decis 2,5 EC (0.04 %).


3. Thrips tabaci Lindeman (Thysanoptera: Thripidae) 

Gejala Serangan Thrips
Thrips merupakan hama dengan ukuran yang sangat kecil dan biasanya berwarna putih dan kuning, hama ini bersifat polifag yaitu menyerang lebih dari satu jenis tanaman seperti tanaman cabe, bawang, kentang, tomat, bayam, kangkung, labu, kacang-kacangan, kopi, tembakau, dll. Tidak hanya sampai disitu hama ini juga menjadi serangga vektor ( pembawa) penyakit virus mosaik dan virus keriting pada tanaman budidaya.

Pada musim kemarau perkembangan thrips sangat cepat, sehingga populasi lebih tinggi sedangkan pada musim penghujan populasinya akan berkurang karena banyak thrips yang mati akibat tercuci oleh air hujan.

Gejala Serangan Thrips tabaci :

Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun-daun muda). Serangan ditandai dengan adanya bercak keperak - perakkan.

Daun yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati.

Cara Pengendaliannya:

1. Thrips merupakan hama yang sangat suka dengan warna cerah, sobat dapat memanfaatkan map plastik berwarna kuning yang telah dilumuri dengan lem dengan tujuan thrips akan hinggap dan terperangkap pada map plastik tersebut. Jika map sudah penuh maka dapat diganti dengan yang baru.

2. Apabila serangan masih ringan atau sedikit sebaiknya daun yang diserang hama thrips dicabut dan dibakar saja jangan langsung menggunakan pestisida kimia.

3. Lakukan pergiliran tanaman dan pengaturan waktu penanaman.

4. Sobat dapat melakukan sistem tanaman tumpang sari. Tumpang sari ialah menanam dua jenis tanaman yang berbeda pada satu lahan dengan tujuan mengurangi hama pada tanaman tersebut. Untuk mencegah serangan trips sobat dapat menanam tanaman perangkap seperti tanaman kenikir.

5. Ingat tidak semua binatang atau hewan yang ada pada tanaman cabe sobat sekalian adalah hama, kenali jenis binatang yang ada pada lahan pertanian sahabat sekalian mungkin saja itu adalah predator atau musuh alami thrips.

Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophthora sp.

6. Langkah terakhir ialah penggunaan pestisida. Pestisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian (serangan mencapai lebih atau sama dengan 15% per tanaman contoh) atau cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama.

Insektisida yang dapat digunakan antara lain: Tokuthion 500 EC, Sevin 5 D, Orthene 75 SP dan Nudrin 24 WSC. Karena thrips mau bersembunyi dan umumnya berkepompong di permukaan tanah, maka dapat juga diberikan insektisida butiran yang ditaburkan ke tanah, scperti Furadan 3 G, Temik 10 G, dan Petrofur 3 G, dan Curater 3 G.

4. Tungau Tetranychus telarius, Tetranychus bimaculatus (Acarina: Tetranychidae) 

Gejala Serangan Tungau
Bentuk tubuh tungau ini seperti laba-laba, tetapi berukuran kurang dari 1 mm. Tungau tampak seperti bintik-bintik/titik-titik merah atau kuning kehijauan yang dapat bergerak/ berpindah di permukaan bawah daun cabai. Tungau ini membentuk anyaman benang halus untuk tempat berlindung dan sarang.

Tungau ini aktif pada siang hari (diurnal) dan umumnya banyak terdapat pada musim kemarau. Pada musim hujan dan kelembaban yang tinggi populasinya berkurang. Tungau dapat tersebar bersama-sama dengan daun-daun yang gugur, oleh angin, atau terbawa pada pakaian orang yang bekerja di ladang atau oleh hewan.

Gejala Serangan Tungau :

Tungau menyerang daun-daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal dan perubahan warna seperti daun menebal dan berubah warna menjadi tembaga atau kecokelatan. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah, menyusut dan keriting. Tunas dan bunga gugur

Cara Pengendaliannya :

1. Membersihkan seluruh gulma yang berada di sekitar tanaman cabe agar tidak menjadi sarang tungau

2. Bila gejala serangan terlihat masih kecil, sebaiknya bagian tanaman yang terserang tersebut dipotong lalu dibakar agar serangan tungau tidak sergera menyebar

3. Memanfaatkan musuh alaminya, antara lain adalah beberapa kumbang macan (Coccinenellidae), misalnya Stethorus gilvifrons dan S. punctillum, beberapa thrips predator, dan cendawan Entomophthora fresnii.

4. Apabila serangan sudah terlanjur parah dapat menggunakan insektisida kimiawi, seperti. Omite 57 EC, Acarin, Keithan, Galecron, Tokuthion 500 EC, Dekasulfan 350 EC, dan Trithion 4 E.

Perhatikan dosis pemakaian dan usahakan ketika menyemprot memperhatikan arah angin dan keadaan cuaca agar hasilnya lebih maksimal.

5. Kutu Kebul Bemisia tabaci (Gennadius)  

(Homoptera: Aleyrodidae)


Kutu Kebul putih
Kutu kebul merupakan jenis hama bersifat polifak yang menyerang hampir lebih dari 63 jenis tanaman lainnya seperti cabe, tomat, jambu biji, labu, kedelai, kacang tanah, buncis, dll.

Kutu kebul menyerang tanaman cabe mulai dari serangga muda yang baru menetas biasa biasanya serangan nimfa tidak terlalu vervahaya namun ketika kutu kebul memasuki serangga dewasa serangannya dapat menyebabkan daun-daun menjadi kronis berwarna kuning, sehingga dapat mengganggu jalannya proses fotosintesis.

Selain itu, kutu kebul dapat berfungsi sebagai penular (vektor) berbagai jenis virus pada tanaman cabai maupun pada tanaman inang lainnya.

Kutu kebul dapat menularkan virus keriting, virus mosaik, dan virus kerdil. Virus dapat ditularkan antar individu tanaman yang sejenis ataupun antar jenis tanaman. Semakin muda tanaman yang terinfeksi virus semakin besar kerugian yang ditimbulkan.

Gejala Serangan Kutu Kebul :

Kerusakan terjadi akibat kutu kebul menghisap cairan sel, terutama pada daun. Pada daun-daun yang diserang akan terlihat bercak-bercak klorosis (menguning).

Pada serangan berat beberapa bercak dapat bersatu, sehingga daun menjadi menguning tidak teratur, meluas dari tulang daun ke tepi daun. Pada keadaan yang demikian, sisa bagian daun cabai yang masih hijau hanya berupa garis sempit di sekitar tulang daun. Kemudian daun cabai menjadi kering, warnanya menjadi kecoklatan dan akhirnya rontok. Ruas-ruas batang, cabang, atau ranting menjadi pendek, dan tanaman cabai menjadi kerdil.

Cara Pengendaliannya :

1. Gulma yang berada disekitar tanaman cabe harus dibersihkan agar tidak menjadi sarang atau tempat kutu berkembang biak.

2. Tanaman cabe yang terserang kutu kebul dapat diatasi dengan cara mencabut bagian tanaman yang terserang lalu membakarnya agar hama tidak meluas.

3. Dengan cara memanfaatkan musuh alami atau biasa disebut predator. Predator yang diketahui efektif terhadap kutu kebul, antara lain Menochilus sexmaculatus (mampu memangsa larva Bemisia tabaci sebanyak 200 – 400 larva/hari), Coccinella septempunctata, Scymus syriacus, Chrysoperla carnea, Scrangium parcesetosum, Orius albidipennis, dll.

4. Tumpangsari antara cabai dengan Tagetes, penanaman jagung disekitar tanaman cabai sebagai tanaman perangkap.

5. Penggunaan perangkap kuning dapat dipadukan dengan pengendalian secara fisik/mekanik dan penggunaan insektisida secara selektif. Dengan cara tersebut populasi hama dapat ditekan dan kerusakan yang ditimbulkannya dapat dicapai dalam waktu yang relatif lebih cepat.

6. Penggunaan pestisida selektif sebagai alternatif terakhir antara lain Permethrin, Amitraz, Fenoxycarb, Imidacloprid, Bifenthrin, Deltamethrin, Buprofezin, Endosulphan dan asefat.

6. Spodoptera litura atau Ulat Grayak 

 
Spodoptera litura
Spodoptera juga termasuk hama yang bersifat polifak atau pemakan lebih dari satu jenis tanaman. Spodoptera dapat menyerang berbagai tanaman seperti cabe, kangkung, bayam, tembakau, bawang merah, kacang tanah, coklat, kedelai, dll.

Pada tanaman sayur hama ini sangat ditakuti karena dapat menyebabkan kegagalan panen hingga 95%. Pada tanaman cabe ulat grayak hanya merusak daun dan tidak akan menyerang buah cabai, namun serangan berat dapat merusak seluruh bagian permukaan daun hingga yang tersisah hanya tulang daun saja.

Tentunya hama ini dapat mengganggu pertumbuhan cabe terutama cabe yang masih muda tidak akan dapat berkembang dengan baik karena daunnya habis dimakan sehingga proses fotosintesis tidak dapat berlangsung.

Gejala Serangan Spodotera litura :

Hama S. litura menyerang tanaman mulai dari saat ulat tersebut menetas dan menjadi larva, biasanya larva akan berkumpul dibawah permukaan daun dan mulai memakan atau menggerogoti daun. Serangan larva yang berumur 1-3 hari memakan jaringan daun dan mengakibatkan daun menjadi transparan.

Serangan larva tua dapat memakan seluruh bagian daun pada satu tanaman cabe sehingga yang tersisa hanya tulang daun saja alias botak. Ulat tua dapat menurunkan produktifitas tanaman cabai hingga 80%.

Cara Pengendaliannya:

1. Pengolahan tanah perlu dilakukan secara maksimal, biasanya ulat grayak yang sudah tua akan masuk kedalam tanah bersembunyi dan akan berubah menjadi pupa.

Maka dari itu perlu dilakuakn pencangkulan untuk membolak balik tanah agar pupa atau ulat grayak tersebut mati. Lakukan pengolahan tanah atau pembolak-balikan tanah selama satu minggu.

2. Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan sanitasi lahan dari gulma dan pengolahan lahan secara intensif. Membersihkan lahan pertanaman cabai dengan rutin dilakukan agar ulat grayak tidak mempunyai inang sementara.

3. Pengendalian secara fisik/mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur, larva, pupa, dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya. Selain itu dapat digunakan feromon seks untuk memerangkap ngengat jantan.

Penggunaan feromon seks ini lebih menguntungkan karena tidak berdampak negative bagi lingkungan, tidak menimbulkan resistensi pada hama dan dapat memperlambat perkembangan populasi hama tersebut.

4. Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami patogen serangga Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), Bacillus thuringensis, Aspergillus flavus, Metharrhizium anisopilae, Beauveria Bassiana.

Bacillus thuringensis dan Beauveria Bassiana dapat diperbanyak dengan menggunakan yeast atau agar, namun butuh keahlian khusus karena dilakukan didalam laboratorium laminar air flow.

Anda dapat memperoleh Bacillus thuringensis dan Beauveria Bassiana dari dosen pertanian atau mahasiswa pertanian dengan menjalin kerjasama.

5. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan ketika cara-cara diatas tidak mampu mengendalikan populasi hama ulat grayak. Insektisida dengan bahan aktif betasiflutrin, klorfluazuron,lufenuron, dan sipermetrin.

7. Ulat Jengkal Plusia chalcites Esper (Lepidoptera Noctuidae)
 
Ulat Jengkal

Tanaman inang utamanya adalah tanaman tembakau dan berbagai tanaman kacang-kacangan, seperti: kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang tunggak. Di samping itu, hama ini juga menyerang cabai, kentang, tomat, jagung, rami, berbagai dan tanaman sayuran, tetapi tidak menyerang rerumputan.

Ulat jengkal berwarna hijau cerah dan pada bagian sisinya terdapat garis putih yang memanjang sepanjang tubuh, dengan kepala kehijauan. Tubuh ulat agak langsing memanjang. Ulat berjalan seperti agak menjengkal karena kaki palsunya tidak lengkap. Panjang tubuh larva tua 3-4 cm

Gejala Serangan Ulat Jengkal :


Ulat muda yang baru menetas segera berjalan/berpindah mencari daun yang sesuai untuk dimakan. Ulat muda memakan jaringan daun, dengan meninggalkan epidermis (kulit) dan tulang-tulang daun. Akibatnya pada daun terlihat bercak-bercak putih.

Ulat yang lebih tua makan dengan rakus, mengakibatkan daun berlubang-lubang tidak teratur. Larva tua dapat menghabiskan helaian daun, adakalanya dengan meninggalkan beberapa tulang daun. Meskipun jarang, serangan pada tanaman cabai muda dapat mengakibatkan defoliasi berat, dimana tanaman kehilangan banyak daunnya. Akibatnya pertumbuhan tanaman cabai akan terhambat.

Cara Pengendaliannya :

1. Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan sanitasi lahan dari gulma dan pengolahan lahan secara intensif. Membersihkan lahan pertanaman cabai dengan rutin dilakukan agar ulat grayak tidak mempunyai inang sementara.

2. Pengendalian secara fisik/mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur, larva, pupa, dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya. Selain itu dapat digunakan feromon seks untuk memerangkap ngengat jantan.

3. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan berbagai jenis insektisida, misalnya: Bayrusil 250 EC, Agrothion, Azodrin, Sumicidin, Dicarmas, Sevin 5 D, Cymbush 5 EC, dan Ripcord 5 EC.


8. Kumbang Daun Epilachna sparsa Hrbts.  

(Coleoptera: Coccineilidae)

Kumbang Daun
Hama ini umumnya dapat ditemui di daerah dataran rendah sekitar 2000 m dpl. Serangga dewasa (kumbang)nya berbentuk bulat, dengan panjang tubuh sekitar l cm dan sayap depan yang berwama merah. Pada sayap depan terdapat 12-26 bercak berwarna
hitam.

Bentuk dan penampilannya mirip kumbang macan predator, tetapi masih dapat dibedakan karena sayap depan hama ini ditutupi oleh bulu-bulu halus.

Gejala Serangan dan Kerusakan :

Kerusakan pada tanaman cabai terjadi karena larva dan kumbang memakan daun. Kerusakan awal terjadi karena larva muda memakan jaringan mesofil daun. Gejala serangannya sangat khas, pada daun terdapat "jendela­jendela" (lubang-lubang) yang tidak teratur, tetapi tulang-tulang daun pada bagian tersebut tidak turut dimakan. Semakin besar larva maka gejala serangan akan semakin banyak dan semakin luas.

Larva tua sangat rakus dan aktif berpindah. Jika helaian daun habis, maka larva juga memakan kulit cabang dan batang.

Kumbang juga sangat rakus dan menyerang tanaman inang yang lebih beragam dibanding larvanya. Kumbang sering terbang/berpindah cukup jauh.

Serangan berat pada tanaman cabai yang relatif muda dapat mengakibatkan tanaman kerdil dan produksinya rendah. Serangan lebih banyak terjadi pada tanaman yang pertumbuhannya kurang baik.

Cara Pengendaliannya :

1. Telur dan larva, terutama larva muda yang hidup berkelompok, dikutip dan dimatikan dengan tangan. Pencarian dilakukan terutama pada permukaan bawah daun. Pada waktu subuh dan pagi hari, larva juga ditemukan pada permukaan atas daun.

Meskipun lebih sulit karena dapat terbang, kumbang juga dapat ditangkap dengan tangan. Tetapi penangkapan harus dilakukan dengan teliti, jangan salah tangkap, karena berbagai jenis kumbang macan predator (musuh alami berbagai jenis kutu daun) berpenampilan mirip dengan hama ini.

2. Jangan menanam cabe setelah penanaman terung atau kentang agar hama ini tidak dapat berkembang.

3. Waktu penanaman sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan keadaan iklim. Biasanya hama ini sulit berkembang pada saat musim hujan karena telur dan serangga akan tersapu oleh hujan.

4. Pengendalian secara kimiawi dengan insektisida dapat sangat efektif, tetapi penyemprotan sebaiknya juga diarahkan ke permukaan bawah daun. Insektisida yang dapat digunakan antara lain: Sevin 5 D, Orthene 7 5 SP, Hostathion 40 EC, Diazinon 60 EC, dan insektisida yang berbahan aktif carbaryl, carbophenathion, alephat, dan trichlorphon.



Semoga Bermanfaat..
Salam Talitakum...



Sumber : 

1. "BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN"
KEMENTERIAN PERTANIAN TAHUN 2 0 1 4


2. Ir BENNY BERNARDUS GINTING, MSi Dalam Penelitiannya Hama Penting Tanaman Cabai Pada Tahun 2013

3. Dan diolah dari berbagai sumber lainnya..

0 Response to "8 Hama Ini Sangat Merugikan Petani Cabe. Begini Gejala Serangan dan Cara Pengendaliannya..!"

Posting Komentar

Kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun
.
No SARA and RASIS.

Berkomentarlah dengan Bijak. SPAM, JUDI!! Otomatis Dihapus!!